Headline News

Soedirman Boleh Sakit, Tetapi Seorang Prajurit Tidak Boleh Sakit, Panglima TKR Soedirman Saat Masih Perang Hanya dengan Satu Paru-paru

omob

“Soedirman boleh sakit, tetapi seorang prajurit tidak boleh sakit…,” jawab sang Jenderal detik-detik saat berjuang melawan agresi militer Belanda pada 19 Desember 1948. Dialah panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pertama kalinya di Indonesia dan juga jenderal yang saat berperang melawan Belanda hanya dengan satu paru-paru.

Begitulah isi petikan berbagi hikmah oleh Anggaratri siswa SMA Islam Terpadu (IT) Nurul Fikri dalam program unggulan SIT Nurul Fikri One Month One Book (OMOB) yang digelar pada Kamis (2/2/2017). Anggaratri membaca biografi tokoh politik yakni biografi Panglima TKR Soedriman yang berjudul “Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir”. Anggaratri mengisahkan perjalanan karir Soedirman yang berawal dari seorang guru, namun karena kondisi negara Republik Indonesia (RI) yang baru saja merdeka membuat kebutuhan tentara menjadi mendesak.

Anggaratri bercerita, karir politik yang menjadikan nama Soedirman gemilang adalah saat berhasil menang melawan Belanda di Ambarawa atau dikenal dengan Palagan Ambarawa. Prestasi inilah yang membawa nama Soedirman sebagai prajurit yang mumpuni dalam medan pertempuran. “Pengorbanan Soedirman masih ikut dalam  perang melawan sekutu meski menderita TBC dan hanya memiliki satu paru-paru,” seru Anggaratri.

Berbeda dengan Anggaratri, Kemal Azizi, sebagai peserta yang tampil pertama, dia menceritakan biografi Soekarno yang berjudul Paradoks Revolusi Indonesia. Disini Kemal mengkisahkan karir politik Soekarno yang malang melintang di dunia organisasi pada masa pergerakan nasional.

Memulai karir politik yang gemilang sebagai ketua Partai Nasional Indonesia (PNI), terpenjara jeruji besi karena ketajaman lisannya hingga yang paling fenomenal menjadi orang nomor satu di Indonesia, Presiden Pertama RI negara yang baru berdiri. Pada kesempatan ini, Kemal mengungkapkan hikmah yang bisa diambil setelah membaca biografi Soekarno adalah sikap revolusioner dan rela berkorban sang Presiden pertama RI.

Kegiatan berbagi hikmah ini merupakan salah satu kegiatan yang mendukung program OMOB di SMAIT Nurul Fikri. Kegiatan berbagi hikmah dilaksanakan setiap bulan di pekan pertama bertujuan untuk mendorong siswa gemar membaca dan membuka cakrawala.

Program OMOB Berbagi Hikmah adalah program untuk siswa yang disajikan dalam bentuk presentasi kepada para audiensi. Siswa diarahkan untuk membaca buku selama sebulan sebelum presentasi. Kegiatan yang diadakan di Masjid Ulun Nuha, dua siswa kelas X yang bernama Kemal Azizi dan Anggaratri Sukma Nastiti tampil di depan teman-temannya untuk berbagi hikmah buku yang sudah dibaca.

Leave a Reply