Headline News

riset

Lomba Cerdas Cermat, SMAIT & SDIT Nurul Fikri Juara I dan II

By | Prestasi SMAIT | No Comments

TUGU – Nurul Fikri Research Expo 2016 baru saja usai digelar. Acara yang diperuntukkan untuk kalangan pelajar dan guru se-Depok dan sekitarnya disambut antusias oleh para tamu undangan dengan hasil sukses dan meriah. Acara yang dilaksanakan pada Jumat-Sabtu, 22-23 April 2016 di lingkungan SIT Nurul Fikri, Jalan Tugu Raya, No. 61, Tugu, Cimanggis, Depok.

Dalam acara tersebut selain menonjolkan acara pameran hasil karya penelitian siswa-siswi Sekolah Islam Terpadu (SIT) Nurul Fikri juga ada perlombaan cerdas cermat untuk sekolah-sekolah eksternal.

Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Nurul Fikri berhsil membawa juara I dan II dalam lomba cerdas cermat kategori SMA. Juara III direbut oleh SMA Nurul Fikri Boarding School, dan juara IV dan V disabet oleh SMA Muhammadiyah 4.

Untuk kategori SD, SDIT Nurul Fikri raih juara I dan II. “Juara I diraih oleh tim Raihan, Aiman, dan Andika. Untuk juara II oleh tim Izzan, Hanan, dan Aisyah Naila,” terang Humas SDIT Nurul Fikri, Esya Wahyunie.

Sementara Juara III diperoleh oleh Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 09 Petukangan, Juara IV oleh tim SDIT Ar-Rahman dan SDIT Bina Insan membawa pulang juara V.

 

 

riset sma

SMAIT Nurul Fikri Membina Siswanya Tanamkan Budaya Meneliti

By | Smart Program | No Comments

TUGU – Penanaman budaya meneliti bagi generasi muda menjadi fokus Sekolah Islam Terpadu (SIT) Nurul Fikri. Seperti halnya Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Nurul Fikri, menggelar lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR). Melalui kompetisi ilmiah ini, SMAIT Nurul Fikri melakukan pembinaan generasi sebagai salah satu upaya meningkatkan daya saing Indonesia pada masa depan dan mendorong percepatan inovasi.

Humas SMAIT Nurul Fikri Siti Badriyah menuturkan, membangun budaya meneliti siswa sangat diwajibkan untuk kelas XI karena masuk dalam kurikulum kelas XI yang akan dijadikan sebagai syarat kelulusan pada saat kelas XII yang pelaksanaannya dimulai sejak kelas XI.

KIR diikuti semua siswa kelas XII dengan guru pembimbing materi sebanyak 2 orang. “Pembuatan Karya Ilmiah dari awal November 2015 – 29 Februari 2016 dan pelaksanaan sidang KIR 4 Maret – 4 April 2016,” jelasnya.

Dijelaskan, setiap siswa kelas XI diwajibkan membuat karya ilmiah dengan bidang studi yang sudah ditentukan oleh tim karya ilmiah yang terdiri dari para guru SMAIT Nurul Fikri, seperti Ugi, Prima, Arwi, Ibad dan Arifin. Dalam pembuatan karya ilmiah siswa membuat kelompok dengan satu kelompok terdiri dari dua orang.

Setiap kelompok wajib melakukan bimbingan karya ilmiah sebanyak delapan kali. Total jumlah karya ilmiah yang dibuat oleh siswa sebanyak 68. Salah satu karya ilmiahnya adalah, Pengaruh Limbah Cair Rumah Tangga Terhadap Eceng Gondok Sebagai Bio Indikator.

seminar pel riset

Seminar Membangun Budaya Meneliti

By | Berita Umum | No Comments

TUGU – Menumbuhkan minat dan bakat siswa dibidang penelitian terus digencarkan oleh Sekolah Islam Terpadu (SIT) Nurul Fikri. Salah satunya adalah dengan memberikan pelatihan kepada para guru di Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Nurul Fikri, Rabu (16/3/2016) di Gedung SMAIT Nurul Fikri, Jalan Lafran Pane Gg. H. Sairi RT 05/11 No. 145, Tugu, Cimanggis, Depok.

Pelatihan diberikan untuk para guru ini bertujuan membangun budaya riset untuk membekali guru yang akan menjadi pembimbing karya ilmiah siswa kelas XI. Bertemakan Menciptakan budaya riset di civitas SMAIT Nurul Fikri menghadirkan keynote speaker dari dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), DR Muhammad Yusro.

“Salah satu bentuk pelatihannya adalah mempelajari ulang pengetahuan tentang metodologi penelitian dan riset sehingga bisa lebih optimal dalam memberikan bimbingannya,” imbuh Humas SMAIT Nurul Fikri, Siti Badriyah, Kamis (17/3/2016).

Yusro yang kerap menjadi juri lomba karya ilmiah tingkat nasional memberikan pemaparan tentang metodologi dan wawasan-wawasan lain seputar penelitian, etika ilmiah dan juga mengungkapkan sedikit tentang orang-orang besar yang dianggap tulisannya plagiat yang berakhir dengan pencopotan jabatan.

“1001 alasan siswa malas buat karya ilmiah itu salah satunya karena gurunya juga malas,” ungkap Yusro.